Seorang jemaah asal Indramayu, Jawa Barat, Sunasih, akhirnya mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji 2026. Namun, perjalanan suci ini harus ia jalani tanpa kehadiran sang suami tercinta yang telah wafat setahun sebelumnya.
Sunasih mengungkapkan bahwa dirinya mendaftar haji sejak 2013 bersama suaminya. Akan tetapi, takdir berkata lain. Suaminya meninggal dunia pada 2025, tepat satu tahun sebelum jadwal keberangkatan haji mereka.
“Daftar haji 2013 bareng suami, tapi suami meninggal tahun kemarin (2025),” ujar Sunasih saat ditemui di Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, Rabu (22/4/2026) waktu setempat.
Kuota haji milik almarhum suaminya kini telah dialihkan kepada anak mereka. Namun, sang anak baru dijadwalkan berangkat sekitar lima tahun mendatang.
“Digantikan oleh anak saya, tapi berangkatnya lima tahun lagi, bersama suaminya,” jelasnya.
Meski diliputi rasa haru, Sunasih tetap bersyukur dapat menunaikan rukun Islam kelima pada tahun ini. Ia mengaku perasaannya campur aduk antara bahagia dan sedih.
“Alhamdulillah, senang. Rasanya campur aduk,” ungkapnya.
Sunasih pun bertekad memanfaatkan kesempatan ibadah ini sebaik mungkin. Ia ingin mendoakan mendiang suaminya dari Tanah Suci sebagai bentuk cinta dan bakti.
Dalam perjalanan haji 2026 ini, Sunasih tidak sendiri. Ia berangkat bersama saudara kandungnya, Tarwono, yang juga mengalami kehilangan serupa. Istri Tarwono telah meninggal dunia pada 2023.
“Daftar bareng Sunasih tahun 2013, juga bersama istri. Tapi istri saya meninggal tiga tahun lalu, dan sekarang digantikan anak,” tutur Tarwono.
Kisah Sunasih menjadi potret keteguhan hati dan keikhlasan dalam menjalani takdir, sekaligus menggambarkan perjuangan panjang jemaah Indonesia untuk menunaikan ibadah haji 2026.
Seorang jemaah asal Indramayu, Jawa Barat, Sunasih, akhirnya mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji 2026. Namun, perjalanan suci ini harus ia jalani tanpa kehadiran sang suami tercinta yang telah wafat setahun sebelumnya.
Sunasih mengungkapkan bahwa dirinya mendaftar haji sejak 2013 bersama suaminya. Akan tetapi, takdir berkata lain. Suaminya meninggal dunia pada 2025, tepat satu tahun sebelum jadwal keberangkatan haji mereka.
“Daftar haji 2013 bareng suami, tapi suami meninggal tahun kemarin (2025),” ujar Sunasih saat ditemui di Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, Rabu (22/4/2026) waktu setempat.
Kuota haji milik almarhum suaminya kini telah dialihkan kepada anak mereka. Namun, sang anak baru dijadwalkan berangkat sekitar lima tahun mendatang.
“Digantikan oleh anak saya, tapi berangkatnya lima tahun lagi, bersama suaminya,” jelasnya.
Meski diliputi rasa haru, Sunasih tetap bersyukur dapat menunaikan rukun Islam kelima pada tahun ini. Ia mengaku perasaannya campur aduk antara bahagia dan sedih.
“Alhamdulillah, senang. Rasanya campur aduk,” ungkapnya.
Sunasih pun bertekad memanfaatkan kesempatan ibadah ini sebaik mungkin. Ia ingin mendoakan mendiang suaminya dari Tanah Suci sebagai bentuk cinta dan bakti.
Dalam perjalanan haji 2026 ini, Sunasih tidak sendiri. Ia berangkat bersama saudara kandungnya, Tarwono, yang juga mengalami kehilangan serupa. Istri Tarwono telah meninggal dunia pada 2023.
“Daftar bareng Sunasih tahun 2013, juga bersama istri. Tapi istri saya meninggal tiga tahun lalu, dan sekarang digantikan anak,” tutur Tarwono.
Kisah Sunasih menjadi potret keteguhan hati dan keikhlasan dalam menjalani takdir, sekaligus menggambarkan perjuangan panjang jemaah Indonesia untuk menunaikan ibadah haji 2026.