Keberangkatan jamaah haji tahun 2026 kembali menghadirkan kisah-kisah inspiratif dari para calon tamu Allah. Di tengah tingginya biaya perjalanan ibadah haji, berbagai cara dilakukan umat Islam demi bisa menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Salah satu cerita datang dari Inah Rain (71), jamaah asal Gondrong, Cipondoh, Tangerang, Provinsi Banten. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya saat akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci setelah menunggu selama 14 tahun. Ia ditemui di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (22/4/2026).
Penantiannya sempat tertunda akibat pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya. Rasa haru pun tak terbendung ketika momen keberangkatan akhirnya tiba.
“Ingin sekali rasanya berangkat. Sempat tertunda karena pandemi, tapi sekarang Alhamdulillah bisa berangkat. Rasanya bahagia sekali sampai menangis,” ungkap Inah.
Demi mewujudkan impian tersebut, Inah memilih jalan yang tidak biasa. Ia menjual kebun miliknya agar bisa langsung melunasi biaya haji tanpa harus mencicil.
“Saya jual kebun, langsung bayar. Tidak pakai kredit atau nyicil,” jelasnya.
Inah berangkat seorang diri karena sang suami telah lebih dulu meninggal dunia. Meski begitu, ia mengaku telah mempersiapkan segala kebutuhan, termasuk obat-obatan, agar dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan khusyuk.
Ia juga mengapresiasi pelayanan yang diberikan petugas haji yang dinilainya ramah dan membantu. Harapannya sederhana, bisa menjalankan ibadah dengan baik dan kembali ke Tanah Air dengan predikat haji mabrur.
“Semoga sehat, ibadah lancar, dan pulang membawa haji mabrur,” tuturnya.
Cerita lain datang dari generasi muda, Syafina Marwa (13), seorang pelajar yang sudah terdaftar sebagai calon jamaah haji sejak usia satu tahun. Orang tuanya telah merencanakan perjalanan haji sejak dini agar bisa berangkat bersama keluarga.
“Daftar haji sejak tahun 2016, waktu saya masih bayi,” ujar Syafina.
Kini, ia merasa senang bisa berkesempatan mengunjungi Tanah Suci Makkah. Ia berharap pengalaman ini bukan yang terakhir, dan suatu saat dapat kembali lagi.
“Semoga bisa bolak-balik ke Tanah Suci,” katanya penuh harap.
Syafina juga menyampaikan rasa puas terhadap pelayanan petugas haji sejak di Asrama Haji Cipondoh hingga persiapan keberangkatan.
Kisah Inah dan Syafina menjadi gambaran nyata bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dalam meraih kesempatan berhaji. Mulai dari menjual aset hingga menabung sejak usia dini, semua dilakukan demi memenuhi panggilan suci ke Baitullah.
Keberangkatan jamaah haji tahun 2026 kembali menghadirkan kisah-kisah inspiratif dari para calon tamu Allah. Di tengah tingginya biaya perjalanan ibadah haji, berbagai cara dilakukan umat Islam demi bisa menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Salah satu cerita datang dari Inah Rain (71), jamaah asal Gondrong, Cipondoh, Tangerang, Provinsi Banten. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya saat akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci setelah menunggu selama 14 tahun. Ia ditemui di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (22/4/2026).
Penantiannya sempat tertunda akibat pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya. Rasa haru pun tak terbendung ketika momen keberangkatan akhirnya tiba.
“Ingin sekali rasanya berangkat. Sempat tertunda karena pandemi, tapi sekarang Alhamdulillah bisa berangkat. Rasanya bahagia sekali sampai menangis,” ungkap Inah.
Demi mewujudkan impian tersebut, Inah memilih jalan yang tidak biasa. Ia menjual kebun miliknya agar bisa langsung melunasi biaya haji tanpa harus mencicil.
“Saya jual kebun, langsung bayar. Tidak pakai kredit atau nyicil,” jelasnya.
Inah berangkat seorang diri karena sang suami telah lebih dulu meninggal dunia. Meski begitu, ia mengaku telah mempersiapkan segala kebutuhan, termasuk obat-obatan, agar dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan khusyuk.
Ia juga mengapresiasi pelayanan yang diberikan petugas haji yang dinilainya ramah dan membantu. Harapannya sederhana, bisa menjalankan ibadah dengan baik dan kembali ke Tanah Air dengan predikat haji mabrur.
“Semoga sehat, ibadah lancar, dan pulang membawa haji mabrur,” tuturnya.
Cerita lain datang dari generasi muda, Syafina Marwa (13), seorang pelajar yang sudah terdaftar sebagai calon jamaah haji sejak usia satu tahun. Orang tuanya telah merencanakan perjalanan haji sejak dini agar bisa berangkat bersama keluarga.
“Daftar haji sejak tahun 2016, waktu saya masih bayi,” ujar Syafina.
Kini, ia merasa senang bisa berkesempatan mengunjungi Tanah Suci Makkah. Ia berharap pengalaman ini bukan yang terakhir, dan suatu saat dapat kembali lagi.
“Semoga bisa bolak-balik ke Tanah Suci,” katanya penuh harap.
Syafina juga menyampaikan rasa puas terhadap pelayanan petugas haji sejak di Asrama Haji Cipondoh hingga persiapan keberangkatan.
Kisah Inah dan Syafina menjadi gambaran nyata bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dalam meraih kesempatan berhaji. Mulai dari menjual aset hingga menabung sejak usia dini, semua dilakukan demi memenuhi panggilan suci ke Baitullah.